WhatsApp Icon

BAZNAS RI: Penggabungan Filantropi Islam sebagai Kunci untuk Mengatasi Kemiskinan

25/06/2026  |  Penulis: Humas

Bagikan:URL telah tercopy
BAZNAS RI: Penggabungan Filantropi Islam sebagai Kunci untuk Mengatasi Kemiskinan

Dokumentasi BAZNAS RI/Humas

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menekankan bahwa penggabungan berbagai bentuk filantropi Islam, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, serta dana sosial keagamaan lainnya, sangat penting untuk memperkuat usaha mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara yang berkelanjutan.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua BAZNAS RI, Dr. H. Zainut Tauhid Sa'adi, M. Si. , dalam acara BAZNAS Knowledge Sharing dengan tema “Sinergi Pilar Filantropi Islam untuk Pengentasan Kemiskinan” yang diadakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) BAZNAS RI dan disiarkan melalui kanal YouTube BAZNAS TV pada Selasa (23/6/2026). Acara ini dihadiri secara daring oleh para pimpinan dan amil dari BAZNAS Provinsi serta BAZNAS Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.

Dalam penjelasannya, Zainut menyampaikan bahwa potensi besar dari instrumen filantropi Islam dapat memberikan hasil yang lebih efektif jika dikelola dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Ia mengatakan bahwa meskipun setiap instrumen memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda, mereka dapat saling melengkapi untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.

“Zakat dapat digunakan sebagai modal untuk usaha produktif yang dapat membangun kemandirian ekonomi umat, wakaf dapat dimanfaatkan untuk menciptakan aset dan infrastruktur yang produktif, sedangkan infak dapat mendukung kegiatan pelatihan dan pendampingan bagi usaha,” tambah Zainut.

Ia juga menekankan bahwa sedekah memainkan peran penting sebagai bantuan dalam keadaan darurat yang merupakan bagian dari sistem perlindungan sosial bagi mereka yang berada dalam situasi rentan. Oleh karena itu, semua instrumen filantropi Islam sebaiknya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan perlu disinergikan melalui intervensi yang terpadu agar manfaatnya dapat lebih optimal.

“Oleh sebab itu, instrumen-instrumen itu tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus saling mendukung melalui intervensi yang terintegrasi,” tambahnya.

Zainut menjelaskan bahwa intervensi filantropi Islam bisa dilakukan secara bertahap mulai dari bantuan darurat dan memenuhi kebutuhan dasar, pemulihan setelah krisis, pemberdayaan ekonomi, hingga mendorong perubahan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, diharapkan filantropi Islam dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan bagi pembangunan nasional.

Lebih lanjut, Zainut mendorong pergeseran paradigma filantropi dari sekadar amal menuju transformasi sosial yang berkelanjutan. Ia berpendapat bahwa bantuan yang disalurkan seharusnya tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek para penerima manfaat, tetapi juga harus mampu mendorong pemulihan ekonomi, meningkatkan inklusi ekonomi, dan memperkuat kemandirian masyarakat.

“Saat ini, kita masih menghadapi tantangan nyata seperti kemiskinan, isu kesejahteraan sosial, dan kerentanan ekonomi. Kondisi ini membutuhkan solusi yang tidak hanya berbasis ekonomi, tetapi juga harus mengedepankan nilai-nilai solidaritas dan spiritualitas yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Ia berharap agar sinergi dan integrasi seluruh unsur filantropi Islam dapat terus diperkuat, sehingga dampaknya lebih luas bagi masyarakat. Menurutnya, tujuan utama dari usaha ini adalah mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, adil, dan inklusif, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.

-------------
Informasi Pusdiklat 0822-2706-0666

Bagikan:URL telah tercopy

Berita Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Lombok Barat.

Lihat Daftar Rekening →